SEKOLAH BERKEBUTUHAN KHUSUS II : PANTI REHABILITASI PENDERITA CACAT NETRA, JANTI, MALANG




 Panti Rehabilitasi Penyandang Cacat Netra ini terletak di Janti Malang, diresmikan pada tanggal 20 Desember 1980 oleh wakil presiden kala itu H. Adam Malik. Tempat ini bukan sebuah sekolah formal, tetapi bisa dikatakan sebagai tempat pelatihan keterampilan bagi Tuna Netra untuk bisa terjun di masyarakat, dan semua tidak dipungut biaya.





 Pertama kali menginjakkan kaki di panti ini, kesan pertama adalah luas dan kurang terurus, hal ini dijelaskan oleh pengelola panti, bahwa semenjak diterapkannya otonomi daerah, maka panti yang memiliki luas + 2 hektar ini, kurang mendapatkan dana perawatan. Menurut penegelola panti, dulu ketika masih terpusat, panti ini di bawah Departemen Sosial, dan memiliki anggaran perawatan sendiri yang bisa diajukan setiap tahunnya, tetapi ketika sudah masuk otonomi daerah, panti ini di bawah pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan mereka sudah dijatah untuk perawatan sebesar Rp. 5.000.000/ tahun, (bandingkan dengan nominal rupiah yang sudah dikorupsi oleh pejabat2 kita yang terhormat), sehingga bisa kita bayangkan, bagaimana cara pengelola panti ini untuk merawat bangunan dengan dana yang terbatas. Pernah beberapa waktu lalu, panti ini akan di pindah ke pinggir kota dan akan di jadikan kantor Polisi karena letaknya yang strategis dan luas, tetapi terjadi penolakan dari masyarakat.

site plan panti janti
 Panti ini pun terbantukan oleh adanya pengembala kambing yang sedang mencari rumput untuk memotongi rumput-rumput dihalaman yang sudah memanjang tiap harinya. pemasukan tambahan pengelolaan panti ini ditambahkan dari penyewaan Ruang Serbaguna, untuk acara-acara perkawinan dll.

setelah berbincang dengan dengan pengelola, pendidikan di tempat ini ditempuh dalam waktu 3 tahun, hal pertama yang diajarkan kepada siswa adalah tentang mobilitas.

MOBILITAS
mobilitas adalah hal terpenting bagi penyandang Tuna Netra, pendidikan tentang Mobilitas ini juga dilakukan dalam waktu yang cukup lama dan secara bertahap, hampir sepanjang 3 tahun masa pendidikan itu di ajarkan tentang mobilitas, hal ini tergantung dari kemampuan individu masing-masing untuk menguasainya.

simulasi mobilitas tuna netra

simulasi mobilitas tuna netra
Penyandang Tuna Netra dalam melakukan mobilitasnya adalah dengan mengingat, dan meraba,
pengajaran tentang mobilitas ini diawali dengan pengenalan dengan tongkat sebagai perantara peraba,
tongkat peraba untuk pemula tidak boleh tongkat lipat, dan harus tongkat yang kuat. hal ini untuk menjaga apabila yang bersangkutan butuh penyeimbang ketika terjatuh. dan untuk pemula, biasanya mereka di "gandeng" didampingi oleh rekannya. mereka mengetahui keberadaan benda di depannya dengan mengayunkan tongkatnya dengan sudut tertentu. tidak boleh terlalu ke atas, dan harus mengarahkan tongkatnya ke bawah.

tepian jalan (hijau-putih) adalah sarana penting untuk mobilitas tuna netra

siswa yang belum bisa menguasai mobilitas, harus mendapat pendampingan
 Cara mengetahui, mengingat asal dan kemana mereka pergi adalah dengan mengingat berapa ketukan tongkat mereka ke tepi jalan (biasanya tepi jalan sebelah kiri) dan berapa kali mereka belok. 
cara mereka menyebrang jalan, adalah dengan mendengar bunyi kendaraan bermotor,  mereka berhenti dengan menyilangkan tongkat, kemudian mendengar dari arah kanan, suara kendaraan apakah dekat atau jauh. dan setelah ditengah jalan, mereka berhenti sebentar dan mendengar dari arah kiri suara kendaaraan, mereka sangat bergantung pada feeling. (semoga Indonesia ke depannya bisa memfasilitasi jalur pedestrian yang ramah bagi mereka amiin)

FASILITAS
 Fasilitas di panti ini terhitung lengkap, ada asrama putra-putri, ruang serbaguna, mushola, kantin, tempat makan, perpustakaan, dan laboratorium ketrampilan.
ketrampilan disini diajarkan antara lain memijat, segal jenis pijat diajarkan di panti ini, siatzu, thai massage, bali massage dll. dan memijat ini adalah menjadi primadona ketrampilan di panti ini.
mereka mengetahui dan membedakan ruang-ruang tersebut karena terdapat penanda huruf braille di dekat pintu masuk, tetapi sangat disayangkan karena ketika ada renovasi, tanda itu pun hilang tanpa dikembalikan seperti semula.

asrama putra

suasana di asrama putra

keramik dinding, adalah peranti peraba ketika penghuni asrama  melakukan mobilitas

peraturan dengan huruf braille dan huruf latin


ruang praktek pijat


penanda huruf braille pada pintu masuk

seorang siswi sedang mengetik jurnal laporan

menulis laporan jurnal

mesin ketik braille

mesin ketik braille

printer braille

foto kopi braille

keyboard komputer braille
ruang serbaguna dan musik 

*penulisan artikel ini tidak ada tujuan lain, hanya untuk berbagi tentang kegiatan para difable, agar kita bisa lebih bersyukur dan menghormati hak-hak mereka yang terkadang terabaikan.

Baca Juga :